Hanya Faktor Kebiasaan, tapi Berefek Luar Biasa

Seseorang mungkin menganggap remeh hal-hal kecil yang dilakukannya, tapi apabila itu dilakukan terus-menerus, maka akan menjadi kebiasaan. Iya kalo hal yang menjadi kebiasaan tersebut adalah hal yang baik, kalau merupakan hal yang buruk? Terlebih lagi hal yang sudah menjadi kebiasaan, akan sulit untuk diubah, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk mengubahnya.

Dari contoh sederhana, misalkan seseorang terbiasa membuang sampah sembarangan, maka hal itu akan menjadi kebiasaan (habit). Pada saat makan permen, bungkus permen tersebut dibuang begitu saja. Bisa jadi tidak jauh dari orang tersebut membuang bungkus permen terdapat tempat sampah, tapi lebih memilih praktisnya saja, “Dibuang disini saja lah, toh juga banyak yang begitu”. Yah, simple memang sih, tapi bayangkan saja kalau di tempat yang sama ada 10 orang saja yang mempunyai perilaku serupa, di tempat tersebut tercecer bungkus-bungkus permen yang pastinya merusak pemandangan. Itu baru bungkus permen, belum lagi botol minuman mineral, dan sampah-sampah lain yang sering kita temui di jalan.

Gambar

Seorang guru favorit saya pernah bercerita bahwa suatu hari ketika Beliau sedang pergi bersama keluarganya, cucunya yang masih kelas 1 SD memakan permen, cucu tersebut celingukan mencari tempat sampah untuk membuang bungkus permen tersebut. Beliau mengamati saja apa yang dilakukan cucunya. Setelah mencari-cari tempat sampah dan si cucu tidak menemukannya, akhirnya si cucu memasukkan bungkus permen tersebut ke kantongnya. Kakek cucu tersebut yang merupakan guru saya masih terus memperhatikannya. Hingga akhirnya si cucu menemukan tempat sampah, si cucu mengeluarkan bungkus permen dari kantongnya dan membuangnya di tempat sampah.

Wow, anak SD saja sudah mempunyai kebiasaan yang mungkin orang dewasa menyepelekannya, ya tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran keluarga. Nah, sebagai orang yang lebih dewasa tentunya malu apabila kita kalah dari seorang anak SD yang sudah mempunyai kebiasaan baik dalam hidupnya. So, tidak ada alasan kan untuk membuang sampah sembarangan? Belum lagi banyak kita temui orang yang membuka kaca jendela mobil, dan dengan tanpa dosa membuang sampah begitu saja. Pernah suatu ketika saya memberitahu seorang teman yang sedang membuang bungkus permen di sembarang tempat, teman tersebut menjawab, “Kan sudah ada petugas kebersihan yang nanti akan membersihkannya”. Ya, memang ada petugas kebersihan, tapi yang memakan permen kan diri kita, toh sudah menjadi kewajiban kita membuangnya di tempat yang seharusnya. Kalau kita bisa melakukannya, kenapa harus menunggu orang lain yang melakukannya?  Jawabannya kembali ke pribadi masing-masing individu.

Sering iri dengan negara tetangga yang apabila melihat tayangannya di TV sudah sedemikian bersih, tetapi di Indonesia masih banyak sampah berserak di jalanan. Memang di luar negeri sudah ada peraturan yang menegaskan untuk membuang sampah pada tempatnya, bahkan Singapura memasang kamera pengintai untuk menangkap pelaku yang membuang sampah sembarangan. Wow, decak kagum bahwa mereka sudah begitu menyadari arti pentingnya kebersihan, untuk membiasakan warganya tidak membuang sampah sembarangan. Kembali lagi faktor KEBIASAAN. Andai saja warga Indonesia sudah mempunyai kesadaran dan kebiasaan itu. So jangan heran kalau di Jakarta masih dilanda banjir jika musim penghujan datang yang salah satu penyebabnya karena aliran sungai tersumbat oleh sampah. Dan tentunya juga karena faktor-faktor lain seperti penebangan pohon secara liar, dan faktor-faktor lain yang mayoritas disebabkan oleh ulah manusia.

Gambar

Kembali ke masalah KEBIASAAN, contoh yang lain yaitu meludah sembarangan. Sepele memang, tapi efeknya luar biasa. Banyak penyakit yang menular melalui ludah, salah satunya TBC. Misalkan seseorang membuang ludah sembarangan (seandainya orang tersebut menderita penyakit yang dapat menular melalui ludah), ketika ludah yang ia buang tadi mengering, kemudian basil penyakit tersebut diterbangkan oleh angin dan terhirup oleh orang lain, maka orang tersebut dapat tertular penyakit yang bersangkutan. Selain itu, terlalu sering membuang ludah akan membuat seseorang kehilangan alat pertahanan tubuh. Jadi, kenapa orang-orang malah hobi meludah sembarangan? Padahal, selain tak sedap dipandang, kebiasaan tersebut merugikan.

Lepas dari masalah kesehatan, meludah di sembarang tempat jadi salah satu tanda masyarakat tak beradab. Tapi, siapa yang peduli? Berbeda sekali dengan Singapura yang menghadiahi orang yang meludah di sembarang tempat dengan denda. Penduduk Siangapura sadar betul kalau meludah itu menjijikkan dan dapat menularkan penyakit. Sikap sadar diri itu sepertinya juga harus ditanamkan ke masyarakat kita. So, kembali lagi, hanya faktor kebiasaan, tapi mempunyai efek luar biasa. Bagaimana kalau kita memulainya dari diri sendiri?

Hanya orang sembarangan yang membuang sampah sembarangan
(termasuk meludah sembarangan, pipis sembarangan, dan sembarangan-sembarangan yang lain). :)

Contoh yang lain, seseorang yang sering mengumpat, “berbicara kebun binatang”, maka ia akan terbiasa untuk berbicara seperti itu. Mati lampu, mengumpat. Baterei HP lowbat, mengumpat. Dan sedikit-sedikit mengumpat. Kalau bisa berbicara yang baik, mengapa harus berbicara yang kurang baik, kurang enak didengarkan telinga. Untuk mengurangi kebiasaan tersebut, banyak caranya. Misal, salah satu caranya mengganti kata-kata yang digunakan untuk mengumpat yang tadinya menggunakan kata-kata “kebun binatang” diganti dengan menggunakan kata-kata “kebun sayur-sayuran” atau “kebun buah-buahan”.

Mati Lampu : “Dasar stroberry!!!”

HP  Lowbat : “Arrrggghhh!!!! Worteeeellll!!! Nih HP malah lowbat pula!!!”

Lagi bawa motor di jalan hampir kesrempet orang, keujanan, lupa bawa jas hujan, ban bocor, dompet ketinggalan pula : “LECIII!!!! BROKOLIII!!! MELONNNN!!!! ALPUKATTT!!! KEMBANG KOLLL!!!”

Lebih enak didengar kan? :P

So, mari biasakan diri kita untuk melakukan hal-hal baik, dan membuang kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik. ^_^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.